Kegagalan Sistem Perdagangan Islam Melawan Dominasi Kapitalisme Eropa

Serambi Nusantara – Dahulu di kisahkan, dalam suatu waktu Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin pada saat itu pernah mendapatkan sebuah kritikan terkait dengan kenaikan harga-harga berbagai barang komoditas perdagangan.
>>Lantas, Nabi Muhammad SAW menjawab kritikan tersebut dengan mengatakan bahwa naik turunnya nilai harga barang itu tergantung kepada kehendak Allah SWT.

Tampaknya pemikiran Nabi Muhammad SAW sejalan dengan pemikiran John Adam Smith seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern yang juga merupakan salah satu pencetus sistem ekonomi Kapitalisme.

Adam Smith yang dalam teorinya yang berjudul Theory of Moral Sentiments ini melihat bahwa naik turunnya harga ditentukan oleh “tangan-tangan tak terlihat dan Adam Smith juga percaya kalau motif manusia sering kali egois dan tamak</a>.

Jadi dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW dan Adam Smith sepemikiran bahwa perdagangan harus dijalankan berdasar integritas moral individu. Lantas menjadi sebuah pertanyaan, jika memang Islam mempelopori perdagangan bebas, mengapa Islam gagal mengembangkan sistem perdagangannya ke kapitalisme ? Tapi kenapa justru Imperialisme bangsa Eropa  yang mendominasi kapitalisme secara global ?

Perlu di catat, Nabi Muhammad SAW tidak pernah melarang perdagangan bebas selama sistemnya tersebut dijalankan dengan amanah dan tidak riba. Namun demikian, sistem perdagangan yang di rekomendasikan oleh Nabi Muhammad SAW tentu saja berbeda dengan sistem kapitalisme. Menurut Sejarawan Ferdinand Braudel, tidak semua sistem perdagangan berujung pada kapitalisme. Termasuk dalam sejarah perdagangan Islam.

Seperti kita ketahui bersama, ajaran Islam ini disebarkan luaskan melalui jalur perdagangan bebas. Hal ini agak berbeda dengan agama yang lain. Menyebarnya ajaran Islam berawal dari Yaman hingga Maluku melalui jaringan perdagangan bebas yang didasarkan atas rasa kepercayaan yang tinggi pada reputasi para pedagang dalam mengemban amanah terhadap kontrak, nota, surat kredit dan sejenisnya.

Perdagangan bebas versi Islam tidak memerlukan dukungan dari kekuatan penguasa ataupun militer. Dukungan perdagangan Islam itu terletak pada integritas dan kejujuran dari para pedagangnya. Hal ini tentu berbeda dengan sistem merkantilisme bangsa Eropa. Seperti sistem perdagangan VOC yang di dominasi penggunaan kekuatan militer dan pemaksaan terlebih dahulu untuk mendominasi pasar.

Perbedaan ini pun juga dapat menjawab pertanyaan mengapa ekonomi Islam tidak berkembang seperti kapitalisme gaya Eropa. Padahal pada masa masa kejayaan para kekalifahan, para pedagang kaya raya ini juga memiliki jutaan dinar dan melakukan investasi menguntungkan. Namun para pedagang ini melakukannya secara profesional dengan tidak melibatkan kekuatan penguasa ataupun militer.

Seorang antropolog dan aktivis asal Amerika Serikat yang bernama David Graeber pernah mengatakan ada dua poin penting mengapa Islam tidak melahirkan ide kapitalisme namun ide kapitalisme ini malah muncul di Eropa.

>Poin pertama, para pedagang Islam percaya pada ideologi perdagangan bebas ini tidak berada di bawah pengawasan ataupun kontrol langsung dari penguasa. Kontrak kemitraan atau perjanjian dagang dibuat antara  individu dengan individu tanpa campur tangan pihak lain. Para pedagang Islam ini percaya bahwa dengan jabat tangan dan kepercayaan pada surga jika  semua pihak berlaku jujur dan amanah.

Dengan demikian, memposisikan perbedaan antara transaksi piutang secara professional dan reputasi kehormatan menjadi sangat sulit dibedakan. Dalam transaksi Islam, hampir tidak ada wasit tunggal yang mengawasi transaksi kecuali berakhir dengan saling berperang bagi mereka yang melanggarnya.

>Lalu poin yang kedua, Nabi Muhammad SAW selama beliau hidup  tidak memperkenankan metode perdagangan finansial yakni dengan cara mengkapitalisasi uang dan aset melalui resiko, dimana hal tersebut dianggap berspekulasi dan memiliki kemiripan dengan judi. Ajaran Islam menganggap hal ini sangat serius, prinsip bahwa keuntungan adalah imbalan atas risiko. Prinsip ini yang nantinya juga diabadikan dalam teori ekonomi klasik.

Banyak para pedagang  yang menyeberangi lautan dari Timur Tengah ke Venesia, India hingga Maluku, secara harfiah, dianggap bagian dari petualangan karena para pedagang memaparkan diri mereka pada bahaya badai, kapal karam, bajak laut, wilayah yang ganas, adat istiadat asing yang berbeda dan tidak dapat diprediksi, serta penguasa yang sewenang wenang. Namun demikian, ada hal yang membedakan antara kapitalisme Eropa dengan sistem perdagangan Islam.

Islam tidak merancang sistem finansial untuk menghindari resiko ini. Tidak ada para pedagang Islam yang menghitung resiko mereka saat dalam perjalanan dengan menghitungnya ke dalam suatu nilai finansial yang mempengaruhi harga barang komoditas yang mereka dagangkan. Alasannya, jika resiko itu difinansialkan atau dihitung secara nilai uang maka akan berpotensi riba.

Sedangkan dalam ajaran Kristen Protestan yang di anut para pedagang Eropa. Dosa adalah hutang manusia terhadap Tuhan. Gereja melarang hutang berbunga namun tidak melarang ketergantungan pelaku dagang dengan penguasa feodal. Misalnya orang kaya memberikan amal kepada orang miskin kemudian orang miskin harus menunjukkan rasa terima kasih mereka dengan bekerja, mengabdi, memberikan pelayanan. Pemberian amal kepada orang lain nantinya dapat ditagihkan ke Jesus di kehidupan kelak. Ajaran Kristen mencurigai dunia perdagangan sebagai perluasan dari bunga. Karena itu hutang adalah dosa dari kedua belah pihak, kreditur dan debitur.

Namun terdapat pula ambiguitas dimana ajaran Protestan mempunyai prinsip “kamu boleh meminjami dengan bunga terhadap orang lain, tapi jangan dengan saudara mu sendiri”.

Perlu di catat bahwa awal mula Protestan muncul dari aliran Kalvinisme yang memprotes terhadap pandangan Katolikisme. Di pedesaan Jerman. Marthin Luther menjadi terkenal pada tahun 1520 karena ia mempelopori penghapusan bunga hutang yang juga merupakan tindakan dosa. Gerakan protestantisme menjadi alternatif karena pada saat yang sama terjadi perlawanan petani dan pekerja tambang terjadi 1525 di seluruh Jerman. Perlawanan yang cenderung ke arah kiri dan menjadi gerakan kolektif yang kemudian dikenal dengan sebagai ideologi komunisme.

Alasan gerakan Protestan pada dua hal yaitu. Pertama, bunga adalah kompensasi dari uang dimana peminjam menjadikannya sebagai investasi. Logikanya, bunga hanya boleh dikenakan pada hutang komersial bukan hutang konsumsi. Peminjam melihat bahwa semua uang bisa diubah jadi modal.

Lalu selanjutnya, sebagaimana dalam ajaran Kristen bahwa “meminjami bunga boleh pada musuhmu tapi tidak saudaramu”, dan karena itu transaksi komersial adalah sesuatu yang alami persis seperti perang karena ia dilakukan dengan orang asing, bukan dengan saudaramu sendiri. Logika poin kedua ini dapat kita temukan pada mengapa pedagang di negeri asing bisa lebih maju dibanding orang asli karena ia tidak punya beban memberikan hutang dengan bunga.

Namun ajaran Kristen sepenuhnya tidak menjadi etos munculnya kapitalisme. Ada sejarah imperialisme yang lebih besar mendorong munculnya perkembangan hutang dan penanaman modal. Masa eksplorasi dunia baru pasca abad pertengahan adalah masa dimana Eropa mencari besi, emas dan perak. Benda-benda ini digunakan sebagai alat tukar, bayar gaji tentara dan alat bayar pajak warga.

Pasca abad pertengahan, penggunaan mata uang dengan perak menyebabkan inflasi perak di Eropa, sehingga menyebabkan tingginya ekspor perak dari Cina. Abad 16 dan 17 adalah dimulainya era dimana kongsi dagang (joinstock companies) seperti VOC mengkombinasikan eksplorasi, penaklukan, dan ekstraksi. Semua strukturnya mengeliminasi moralitas. Pegawai kongsi dagang VOC diharuskan mengabaikan semua moralitas karena mereka hanyalah “karyawan” yang bertanggung jawab terhadap pengembalian maksimum dari investasi yang telah ditanamkan oleh perusahaan pemegang saham/stokholders.

Sistem kerja ala VOC ini tidak seperti pandangan munculnya kapitalisme menurut Karl Marx yang melihat pertukaran M ke C ke M atau Money to Commodity to Money. Secara ekonomi politik untuk mengubah uang menjadi modal memerlukan sistem kekerasan dan monopoli. Seperti penaklukan dan perbudakan.

Dari semua paparan di atas tadi itulah yang menyebabkan mengapa sistem perdagangan Islam gagal berkembang. Dikarenakan yang menjadi acuan sebuah kemitraan atau kerjasama dagangnya hanya pada perdagangan bebas dan jabatan tangan dari dua orang alim yang mempunyemai reputasi terpercaya. Ditambah, Islam agama yang anti riba.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu sistem perdagangan Islam yang lebih banyak di kenal orang dengan sistem ekonomi Syariah mulai berkembang pesat dan diakui oleh masyarakat internasional. Begitu juga masyarakat Indonesia yang mulai percaya bahwa sistem ekonomi syariah ini juga menjanjikan sebuah prospek perkembangan ekonomi yang lebih terpercaya dan tentu juga lebih amanah. (GP)

Sumber https://econanthro.wordpress.com/Hatib Abdul Kadir (Dosen Antropologi Budaya, Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *