Serambi Nusantara – Mie Instan telah lama menjadi makanan yang begitu di sukai masyarakat di berbagai negara tak terkecuali di Indonesia. Rasanya yang lezat ditambah kepraktisan dalam penyajiannya membuat jenis makanan ini masih bertengger di posisi teratas dalam urutan jenis makanan terfavorit.
Begitu pun di Indonesia, berbagai merk mie instan beserta beragam cita rasanya di tawarkan. Namun, tetap merk merk legenda mie instan di Indonesia seperti Supermi, Indomie dan Sarimi masih menguasai pasar di tanah air.
Kali ini, kita akan sedikit mengulas salah satu legenda mie instan di Indonesia. Walaupun Indomie ini bukan merupakan produk mie instan pertama di Indonesia, karena sebelumnya di tanah air masyarakat sudah mengenal Supermi yang sudah ada sejak tahun 1968. Namun, merk dagang Indomie ini dengan cepat menguasai pasar dalam negeri bahkan juga menguasai pasar di mancanegara.
Bukan hanya di Indonesia, Indomie juga mendirikan pabriknya di sejumlah negara seperti Malaysia, Arab Saudi, Turki, Nigeria, Kenya, Mesir, Ghana, Maroko dan Serbia. Bahkan saat ini Indomie memiliki 30 pabrik di berbagai negara dengan kapasitas produksi mencapai 35 miliar bungkus per tahun.
Nah, tentu kita semua ingin tahu juga sejarah perkembangan Indomie. Seperti yang di kutip dari laman Wikipedia.com, pabrik mie instan sekaligus merk dagang Indomie pertama kali di dirikan oleh Djajadi Djaja bersama Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma dengan mendirikan PT. Djangkar Djati pada tahun 1970 an. Tak lama kemudian, PT. Djangkar Djati berubah nama menjadi PT Wicaksana Overseas International Tbk. Perusahaan ini terkenal sebagai perusahaan distributor produk produk consumer goods terbesar di Indonesia.
Pada 25 April 1970 PT. Wicaksana Overseas Internasional Tbk mendirikan anak usaha mereka yaitu PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd untuk memproduksi mie instan. Baru pada tahun 1972 lahirlah merk dagang mie instan Indomie. Indomie ini merupakan gabungan kata dari Indonesia dan mie.
Pabrik mie instan pertama Indonesia ini berlokasi di Ancol Jakarta Utara. Indomie kala itu hanya memiliki dua varian rasa saja yaitu kaldu ayam dan udang. Kehadiran Indomie di Indonesia begitu mendapat sambutan yang positif dari masyarakat dan boleh di bilang sangat sukses. Hingga pada 1982—1983 PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd mulai melakukan ekspor produk Indomie ke negara tetangga, seperti Brunei, Malaysia, dan Singapura, kemudian berlanjut ke Australia, Amerika Serikat bahkan hingga ke negara negar di Eropa.
Tentu saja kesuksesan Indomie ini mendapatkan tantangan dengan kehadiran pesaing mie instan lainnya. Setelah sebelumya ada kompetitor yaitu Supermi yang berdiri lebih awal yaitu sejak tahun 1968. Maka pada tahun 1982, Salim Group mulai ikut terjun ke dalam bisnis mie instan dengan memperkenalkan merek dagang mereka bernama Sarimi.
Pada tahun 1984, melalui berbagai liku liku bisnis yang terjadi. Pada akhirnya Djajadi Djaja menyepakati kerjasama dengan Salim Group untuk membentuk perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna Corporation. Dengan persentase saham Djajadi dkk mendapat 57,5% dan Salim dkk 42,5%. Akhirnya pada tanggal 30 Agustus 1986, saham PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd resmi diambil alih oleh PT Indofood Interna.
Pada tahun 1994, PT Indofood Interna dan PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd dimerger menjadi sebuah perusahaan baru yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Kemudian di tahun 2009, produksi Indomie dialihkan ke anak usahanya yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
Kini, Indomie sudah malang melintang di pasar tanah air selama lebih dari setengah abad. Dalam periode yang panjang itu, selain menjadi produk yang digemari oleh masyarakat Indonesia, tidak hanya menjadi ikon budaya populer, Indomie kini juga bisa dianggap sudah menjadi semacam simbol identitas nasional. Hal ini terjadi meskipun mie bukanlah makanan asli Indonesia.
Simbolisme Indomie sebagai tanda “Indonesia” semakin menguat ketika melihat produk mie instan asal Indonesia ini di luar negeri. Hal ini nampak ketika masyarakat Indonesia tertarik melihat Indomie dikonsumsi orang-orang asing atau menemukan Indomie saat berada di luar negeri. (GP)

