Ima Rahmawati Kupas Dampak Digitalisasi Gamelan Degung

Cumlaude di ISBI Bandung, Ima Rahmawati Kupas Dampak Digitalisasi Gamelan Degung

SERAMBI NUSANTARA — Transformasi teknologi dalam dunia pendidikan seni kembali menjadi sorotan. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Seni, angkatan pertama Pascasarjana ISBI Bandung, Ima Rahmawati, resmi menuntaskan sidang akhir tesisnya dengan predikat cumlaude, melalui riset bertajuk “Pergeseran Nilai Estetika dan Otentisitas dalam Media Pembelajaran Gamelan Degung Digital di SMAN 1 Sindangkerta.”

Penelitian yang dibimbing oleh Dr. Suhendi Afryanto, S.Kar., M.M. dan Dr. Otin Martini, M.Pd. ini mengupas secara mendalam dampak penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran Gamelan Degung, khususnya terhadap nilai estetika dan otentisitas yang selama ini menjadi ruh kesenian tradisional Sunda.

Di bawah kepemimpinan Rektor Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum., lingkungan akademik ISBI Bandung terus mendorong lahirnya riset-riset inovatif di bidang seni dan budaya. Program Pascasarjana Pendidikan Seni sendiri dipimpin oleh Direktur Prof. Dr. Jaeni, S.Sn., M.Si serta Wakil Direktur Dr. Mohamad Zaini Alif, S.Sn., M.Ds, yang aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran berbasis tradisi dan teknologi.

 Ima Rahmawati Kupas Dampak Digitalisasi Gamelan Degung
Ima Rahmawati Kupas Dampak Digitalisasi Gamelan Degung

Digitalisasi Seni: Solusi atau Tantangan Baru?

Dalam paparannya, Ima menyoroti bahwa perkembangan teknologi telah mendorong inovasi media pembelajaran seni budaya. Di tengah keterbatasan perangkat gamelan fisik di sekolah, media digital hadir sebagai solusi praktis dan fleksibel. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul konsekuensi yang tidak sederhana.

“Pembelajaran berbasis digital tidak hanya mengubah cara siswa belajar, tetapi juga memengaruhi cara mereka merasakan dan memaknai musik itu sendiri,” ungkapnya.

Ia menemukan adanya pergeseran signifikan—mulai dari cara menabuh, karakter bunyi, hingga sikap bermusik. Jika gamelan konvensional mengandalkan sentuhan langsung, getaran fisik, dan resonansi akustik, maka gamelan digital menghadirkan pengalaman berbasis layar, sampling suara, dan visualisasi notasi.

Otentisitas yang Bertransformasi

Penelitian ini juga mengungkap bahwa otentisitas dalam pembelajaran gamelan tidak hilang, melainkan bertransformasi. Perubahan terjadi pada alat, teknik bermain, konteks pertunjukan, hingga proses belajar itu sendiri.

Dengan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis fenomenologi, Ima menggali pengalaman siswa kelas XI di SMAN 1 Sindangkerta melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa meski terjadi pergeseran nilai, pemahaman terhadap budaya tetap terjaga.

Efektif, Tapi Bukan Pengganti Utama

Dalam kesimpulannya, Ima menegaskan bahwa media gamelan digital efektif sebagai alat bantu pembelajaran, terutama dalam kondisi keterbatasan fasilitas. Namun, ia menekankan bahwa media ini tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran gamelan konvensional.

“Nilai budaya tetap bisa dipahami, meski medianya berubah dari material ke maknawi. Namun, pengalaman estetik yang utuh tetap membutuhkan interaksi langsung dengan instrumen asli,” jelasnya.

Menuju Pembelajaran Hybrid

Salah satu rekomendasi utama dari penelitian ini adalah pengembangan model pembelajaran hybrid, yang mengombinasikan gamelan digital dan konvensional. Pendekatan ini dinilai mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya.

Dengan capaian cumlaude, penelitian Ima Rahmawati dari Prodi Pendidikan Seni angkatan pertama Pascasarjana ISBI Bandung ini tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga referensi penting bagi pengembangan strategi pembelajaran seni budaya di Indonesia ke depan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *